....Berantas Tuntas : korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di muka bumi Indonesia..dan juga Bereskan Hukum di Negri ini dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya..jangan pernah buat bangsa ini menjadi bangsa yang terus "Ngaco!!!"....

Jumat, 06 Mei 2011

Puisi Anak-anak

Apakah yang dimaksud dengan puisi anak-anak? Puisi anak-anak adalah jenis cipta sastra yang terkait oleh aturan tertentu yang isinya sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak. Oleh sebab itu, puisi tersebut ditujukan bagi anak-anak. Isi, sifat, dan gaya pengungkapannya pun harus disesuaikan dengan pola kehidupan dan kemampuan anak-anak. Tidaklah mungkin kalau gaya pengungkapannnya dengan menggunakan bahasa yang terlalu tinggi, sebab tidak akan dapat dipahami anak-anak.
Puisi anak-anak biasanya yang paling populer berbentuk pantun. Adapun jenis pantun yang termasuk pantun anak-anak adalah pantun bersuka cita, pantun jenaka, pantun teka-teki, pantun nasihat, dan pantun agama.
Berikut contoh pantunnya.

1. Pantun bersuka cita
    Dibawah itik pulang petang
    Dapat di rumput bilang-bilang
    Melihat ibu sudah datang
    Hati cemas jadi hilang

2. Pantun jenaka
    Elok rupanya pohon belimbing
    Tumpuh dekat pohon mangga
    Elok rupanya berbini sumbing
    Biar marah tertawa juga

3. Pantun teka-teki
    Kalau puan, puan cerana
    Ambil gelas di dalam peti
    Kalau tuan bijak laksana
    Binatang apa tanduk di kaki

4. Pantun nasihat
    Berburu kepadang datar 
    Mendapat rusa belang di kaki
    Berburu kepalang ajar
    Bagai bunga kembang tak jadi

5. Pantun agama
    Asam kadis asam gelugur
    Kedua asam siang riang
    Menangis mayat di dalam kubur
    Teringat badan tidak sembahyang

Kamis, 14 April 2011

Puisi Lirik

Puisi bertipe lirik adalah puisi yang nadanya berdendang. Dalam puisi tipe ini, biasanya banyak terkadung buyi-bunyi dan irama yang merdu.
Dalam menulis puisi jenis ini, penyair mencurahkan perasaannya. Demikian pula pembaca pada waktu menghadapi sajak lirik lebih memusatkan perasaannya. Puisi ini berupa dendang yang bersifat santai. Kadang-kadang pembaca tidak terlalu memperhatikan isinya, tetapi lebih memperhatikan keindahan iramanya. Berikut contoh puisi lirik :

Beta sari
Tidakkan kembang
Melihat terang
Si Matahari

Betapa kami
Tidakkan suka
Memandang muka
Si jantung hati

(Betapa Kami Tidak Kan Suka : Karya Sanusi Pane)

Selasa, 08 Maret 2011

Puisi Reflektif

Puisi yang bertipe replektif ialah puisi yang nadanya mengajak pembaca untuk merenungkan makna yang terkandung di dalamnya. Pada umumnya, puisi bertipe demikian berbau filosofis dan memahaminya tidak cukup hanya satu kali baca. Mengapa demikian? Karena gaya pengungkapannya tidak seperti puisi bertipe deskriptif. Tipe ini menuntut pemikiran yang terkonsentrasi. Maknanya sulit untuk dapat dipahami secara langsung. Contoh puisinya sebagai berikut:

Srigala
Kita telah banyak kehilangan
Waktu dan harta, kesenangan dan teman
Serta selama perjuangan ini. Apa yang
Kita capai :
Kemerdekaan buat bangsa, harga diri, dan
Hilangnya ketakutan kepada kesulitan
Kita telah tahu apa artinya menderita
Di tengan kelaparan dan putus asa
Kematian hanya tantangan terakhir
Yang sedia kita hadapi demi kemenangan ini
Percayalah

Buat kebahagiaan bersama
Tak ada korban yang cukup bahagia
Tapi dalam kebebasan ini masih tinggal
Keresahan yang tak kunjung berhenti:
Apa yang menanti di hari esok : kedamain
Atau pembunuhan lagi
Begitu banyak kita mengalami kegagalan
Dalam membangun hari depan : pendidikan
Tak selesai, cita-cita pribadi hancur
Dalam kekacauan bertempur
Cinta yang putus hanya oleh hilangnya
Pertalian

Tak ada yang bisa terus berlangsung
Tak ada kepastian yang bertahan
Kita telah hilang kepercayaan kepada
Keabadian
Semua hanya semebtara : cinta kita,
Kesetiaan kita
Kita hidup di tengah kesementaraan segala
Di luar rumah terus menunggu seekor serigala

(Srigala karya Subagio Sastrowardoyo)


Jumat, 04 Maret 2011

Tipe Puisi Deskriptif

Tipe puisi deskriptif adalah puisi yang bernada melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu. Objek yang dimaksud dapat berbentuk benda atau makhluk hidup. Puisi tipe deskriptif biasanya merangsang pengindraan, baik visual, auditif maupun sensual atau perasaan dan memorial atau kenangan. Berikut contoh pusisi yang dimaksud di bawah ini :
Amir Hamzah



Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Malayah kau mengurak puncak
Berjuang datang ubur terkembang

Angin pulang menyepik bumi
Menepuk teluk mengempas-empas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik merak mengerak corak
Elangleka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak
Dalam rupa maha sempurna
Rindu senda mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mencecap hidup bertemu tuju

(Berdiri Aku karya Amir Hamzah)

Rabu, 02 Maret 2011

Puisi Naratif

Tipe puisi naratif ialah karangan yang berisi penuturan suatu kejadian secara lengkap sehingga pembaca seolah-olah mengalami atau melihat kejadian tersebut. Puisi naratif ini juga tidak berbeda dengan prosa naratif bernada menceritakan, sehingga untaian puisi itu merupakan untaian cerita. Puisi tersebut mengandung sesuatu yang diceritakan. Sedangkan yang dijadikan objek cerita biasanya manusia sebagai tokoh. Oleh sebab itu, puisi naratif biasanya panjang. 
Berikut contoh puisi naratif.

Mataku terkapar ke tengah pintu
dekat mimbar, sorot lampu
samping pilar dan aula yang tenang
di tengah terbaring jenazah
berpagar beranda bunga
dan panji-panji Mahajaya 
Malam makin tenang saja
di benakku suara: hingar sekretariat negara
sejenak tenang, langkah riuh berderap
silang siur dengan kapal terbang
gardu dan pagar-pagar besi gempar sekali
kegaduhan dan sepatu duri berlari 
Kemudian mataku hinggap ke jenazah
dekat kesamaran gerombol mahasiswa
terpacak bendera
di ujung bangku tegak pekur para mahasiswa
di lengannya pita hitam dan selampai
dari celah-celah mereka, kulirik kertas putih
tertulis nama : Arief Rahman Hakim 
Malam tambah jauh dan makin tua
tiba-tiba di belakangku muncul mahasiswa
dengan ragu bertanya : "Bapak siapa?"
Wartawan atau alat negara?
Dengan sigap kujawab : "Saya penyair
yang turut ambil bagian
dalam demonstrasi tadi pagi!" 
Dijalan pulang ke Timur
desah gerimis mulai turun
aku tunduk melangkah dan melangkah
lama baru sadar kemeja telah basah 
Kutatap belakang jauhan tampak gedung-
gedung salemba
nun aula Universitas Indonesia
tempat upacara duka
terbaring putra tanah air
menanti kupahat dalam puisi
(Jenazah karya Mansur Samin)



Selasa, 01 Maret 2011

Puisi Indonesia

Puisi Indonesia ditulis oleh penyair Indonesia sejak lahirnya puisi hingga saat ini. Kapan puisi Indonesia lahir? Sejarah mencatat kelahiran puisi Indonesia sesuai dengan kelahiran sastra Indonesia yang disebut sastra lama yang lahir sekitar 1920. Dikatakan sastra Indonesia, sebab yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia dan memiliki ciri khas kebudayaan Indonesia. Demikian pula puisi Indonesia adalah puisi yang disusun oleh orang Indonesia, diungkapkan dalah bahasa Indonesia, dan melukiskan ciri khas kebudayaan Indonesia. Jadi, bukanlah puisi Indonesia jika diungkapkan bukan dalam bahasa Indonesia meskipun berisi tentang kebudayaan Indonesia. Demikian pula bukan puisi Indonesia, meskipun diungkapkan dalam bahasa Indonesia kalau tidak berisi tentang kebudayaan Indonesia.
Puisi Indonesia dapat digolongkan berdasarkan kriteria berikut :

  1. Kriteria kurun waktu/jaman.
  2. Kriteria isi.
  3. Kriteria bentuk atau gaya pengungkapan yang kadang-kadang disebut pula dengan tipe.
Berdasarkan kurun waktu atau jamannya, puisi Indonesia dapat dibedakan menjadi puisi lama dan puisi (baru) modern. Dengan membagi puisi Indonesia berdasarkan kurun waktu atau jamannya, sebenarnya telah pula didasarkan pada bentuk dan sifatnya. Berdasarkan sifatnya, puisi lama merupakan milik bersama sehingga siapa pun yang mampu menghapalkannya, dialah yang memilikinya. Adapun berdasarkan dengan bentuknya, puisi lama pada umumnya berpola (terikat oleh beberapa aturan). Artinya, sebagian besar berbentuk cipta sastra yang diikat oleh berbagai aturan, seperti terikat oleh banyak baris, banyak kata atau banyak huruf. Akan tetapi, ada bentuk puisi lama yang tidak beraturan bentuknya, misalnya mantra.

Puisi baru atau modern sifatnya berbeda dengan puisi lama. Puisi baru jelas pengarangnya. Pengarangnya itulah sang pemilik karya. puisi baru berbentuk lirik yang menggambarkan cetusan perasaan pribadi pengarangnya. Puisi baru berbentuk cipta sastra yang tidak terikat oleh pola tertentu. Dengan demikian, sering puisi modern disebut pula dengan puisi bebas.

Ajip Rosidi membedakan puisi lama dan puisi baru ialah puisi lama berbentuk epik, sedangkan puisi baru berbentuk lirik. Kapankah bentuk puisi lama dengan puisi baru itu? Batas kurun puisi lama dan puisi baru sekitar 1920-an, tepatnya pada 1922 ketika diterbitkannya puisi "Tanah Air" karya Muhammad Yamin.
Penggolongan puisi Indonesia berdasarkan isi dan tujuannya adalah sebagai berikut.
  1. balada
  2. ode
  3. himne
  4. satire, dan
  5. epigran.
Balada adalah puisi yang berisi cerita yang serius dan berakhir dengan tragis. Misalnya, kematian, putus cinta, dan mendapat musibah atau bencana lainnya. Berikut contoh puisi balada.

Minggu, 16 Januari 2011

Mengenal Puisi

Apakah Puisi itu?
Istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan. Istilah ini lama-lama semakin sempit ruang lingkupnya menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan (Tarigan, 1984: 4).

Watts (dalam Tarigan, 1984: 7) berpendapat, bahwa puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Sementara itu, ada pula pendapat yang mengatakan puisi atau sajak adalah salah satu bentuk (perwujudan) penghayatan pengarang yang memiliki ciri-ciri khas jika dibandingkan dengan bentuk sastra lainnya. Secara lahiriah, puisi atau sajak tertulis biasanya terdiri atas beberapa larik, dan larik itu menunjukkan pertalian makna, serta membentuk sebuah bait atau lebih.

Ahdiyat (1987: 46) mengatakan puisi adalah cipta sastra yang terdiri atas beberapa baris dan satu sama lainnya memperlihatkan pertalian makna, serta membentuk sebuah bait atau lebih.
Dalam pandangan Blair dan Chandler (melalui Tarigan, 1984: 4), puisi diartikan sebagai ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif yang hanya bernilai dan berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang memanfaatkan setiap rencana dengan matang dan tepat guna.

Pendapat tersebut dapat mengerucut pada simpulan, bahwa puisi adalah salah satu bentuk cipta sastra atau karya tulis yang bersifat terkait. Hal apakah yang mengikat dalam menulis puisi? Penulisan puisi terikat oleh hal berikut.
1.       Banyaknya baris yang membentuk sebuah bait.
2.       Disusun atas dasar ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif.
3.       Penggunaan kata-kata yang benar-benar direncanakan secara matang dan tepat guna.
4.       Penggunaan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan.
5.       Penggunaan bahasa emosional dan berirama.

Dengan demikian, tampaklah bahwa puisi harus ditulis dengan memperhatikan berbagai ketentuan yang diatur secara ketat. Ini merupakan ekspresi dari pengalaman imajinatif pengarangnya. Oleh sebab itu, puisi disebut karangan rekaan maksudnya bukan kenyataan faktual, bukan kenyataan ruang dan waktu, melainkan hanya jagat imajinasi, dunia rekaan atau dunia yang diada-adakan atau dibuat-buat walaupun kadang-kadang nyata dan faktual.
Misalnya, penyair Chairil Anwar mengarang puisi berjudul “Diponegoro”. Perhatikan nukilan puisi tersebut.

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

Puisi tersebut menggunakan kata-kata kiasan. Tuan hidup kembali/Berselempang semangat yang tak bisa mati. Kata-kata ini digunakan untuk menggantikan, bahwa pusat dan esensi puisi adalah emosi yang terpadu dengan pikiran yang menggambarkan imajinatif. Apakah dalam penulisan puisi selalu menggunakan kata-kata kiasan atau kata-kata abstrak? Tentu tidak selalu demikian. Coba kita perhatikan salah satu puisi karya Taufiq Ismail berikut.

Karangan Bunga
Karya: Taufiq Ismail


Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi


Berdasarkan uraian dan contoh tersebut dapatlah disimpulkan, bahwa puisi adalah cipta sastra yang terdiri atas beberapa larik dan larik-larik itu memperlihatkan pertalian makna, serta membentuk sebuah bait atau lebih biasa dikatakan sajak.
Puisi sebagai cipta sastra adalah perwujudan berbagai pengalaman penyair yang diungkapkan dengan tulus, apa adanya, sungguh-sungguh, dan sarat imajinasi (daya bayang) dengan bahasa yang khas pula. Ketulusan, kewaspadaan, kesungguhan, kekayaan imajinasi, dan bahasa yang khas pula mengakibatkan beragam pengalaman yang diungkapkan menjadi hidup serta memikat hati.
Dalam menulis puisi lebih mengutamakan beragam pikiran dan emosi yang digambarkan dengan penuh imajinasi, dunia rekaan atau jagat yang dibuat-buat walaupun kadang-kadang isi faktual. Artinya, sesuai dengan fakta yang ada. Hal ini akan lebih jelas, jika kita bandingkan antara ungkapan suatu fakta dan puisi serta sejarah atau tulisan ilmiah lainnya.

Rabu, 05 Januari 2011

Kesesuaian dengan Lingkungan


Kegiatan apresiasi puisi akan lebih efektif jika diawali dengan penyajian puisi yang memiliki suasana lingkungan yang akrab dengan siswa. Dengan demikian, siswa akan merasakan bahwa puisi itu mereka kenal dan mudah membacanya. Setelah mereka terbiasa dengan puisi, mereka mulai kenal hal-hal lain. Siswa pun ingin mengetahui lingkungan di luar tempat tinggalnya. Jika sudah demikian tentu, siswa dapat mulai memahami lingkungan lain. Apresiasi puisi, selain membantu meningkatkan keterampilan berbahasa, pengetahuan budaya, mengembangkan daya cipta dan rasa, juga menunjang pembentukan watak. Jadi, siswa hendaknya memilih puisi yang dapat mewujudkan hal tersebut.
Sekarang baca dan pahami puisi tersebut.

Pagi di Desaku
Karya: Atsarina Silminawati

Saat ayam jantan berkokok
Aku terbangun
Dari jauh aku mendengar gemuruh
Suara air terjun
Dan gemercik air yang mengalir sawah

Di pepohonan embun menggantung
Bunga-bunga bermekaran
Di ufuk timur matahari mulai memancarkan sinar
Burung-burung berkicau merdu menyambut pagi

Kupu-Kupu
Karya: Sigit B.K.

Alangkah elok warnamu
Terbang kian kemari
Di antara bunga-bunga
Mencari madu

Kadang kulihat engkau berayun
Di tangkai dan daun-daun
Atau berkejaran bersama kawanmu
Kupu-kupu
Alangkah senang aku melihatmu
Dapatkah aku memiliki sayap indah
Seperti sayapmu

Matahari
Karya: Yun Amerifiani

Di ufuk timur cahayamu berderang
Burung-burung mulai berdendang
Kuncup bunga mengembang
Pak Tani pun berangkat ke ladang
O, matahari cemerlang
O, matahari gemilang
Di ufuk barat kau terbenam
Pertanda akan datang malam

Bagaimana kesan kita tentang ketiga puisi tersebut? Puisi mana yang cocok di apresiasi pada tahap permulaan di suatu daerah tertentu? Pertanyaan ini tentu harus dikaitkan dengan kriteria kesesuaian lingkungan.
Puisi “Pagi di Dadaku” dan “Matahari” tampaknya lebih cocok untuk di apresiasi teman lain yang tinggal di daerah pedesaan, bukan? Karena kata-kata yang dipilih, seperti sawah dan Pak Tani lebih akrab dengan anak-anak desa daripada anak-anak di kota. Lain halnya dengan puisi “kupu-kupu”. Puisi ini dapat dipahami atau di apresiasi di kota atau di desa, asalkan di tempat tersebut terdapat kup-kupu. Begitulah kriteria kesesuaian dengan lingkungan di dalam pemilihan bahan apresiasi puisi.

B. Kesesuaian dengan Kelompok Usia Siswa


Memilih bahan apresiasi puisi perlu mempertimbangkan kelompok usia siswa. Dalam kegiatan apresiasi, puisi di SMP, misalnya hendaknya tidak dipilih puisi untuk orang dewasa. Mengapa? Karena gagasan dan ungkapan puisi itu terlalu asing bagi mereka. Walaupun mungkin siswa mampu membacanya dengan irama yang baik, hampir dapat dipastikan bahwa mereka tidak memahami puisi tersebut. Oleh sebab itu, sebaiknya puisi untuk latihan apresiasi dipilih sesuai dengan usia siswa.
Puisi yang mengadung kemerduan bunyi, misalnya. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, mereka senang menyanyikan nyanyian yang berisikan permainan bunyi seperti berikut.
“Hom pila hom pim pah
Ala ihim gambreng!
Atau
Do, mi ka do,
Mi ka do, es ka
Es ka do, es ka do
Bea bea
Cic-cis
Wan! To!”

Begitu menyanyikan lagu-lagu tersebut, mereka bergembira tanpa peduli apa maksud bunyi-bunyi tersebut. Kesenangan dan kemerduan bunyi itu, kita salurkan saja ke dalam apresiasi puisi supaya mereka merasa tertarik untuk belajar. Puisi berikut memenuhi syarat kemerduan bunyi.

Memandang Laut
Karya : Edwar Lazuardi
Di tepi pantai, aku memandang laut
Airnya tenang, digoyang angin menjadi gelombang
Debar-deburnya mengantam karang
Cantik sekali, memandang laut itu

Di tepi pantai, aku memandang laut
Ada nelayan melempar jaring
Perahu mendayu-dayu
Ikan menggelapar-gelapar di atas jaring
Nelayan senyum membawa ikan
Cantik nian, memandang laut

Petang akan datang, aku segera pulang
Dengan segenggam kenang itu, aku termenung
Sungguh Tuhan Maha Agung
Jika membaca puisi tersebut dengan lautan yang manis, kita akan merasakan keindahan puisi ini. Irama membaca dan khayalan yang terbentuk dari puisi tersebut dapat membawa siswa ke dalam suasana alam yang pernah dilihat dan dirasakannya. Dengan perantara puisi itu, dapat pula kita membawa siswa ke arah kecintaan akan alam.
Tidak selamanya puisi untuk siswa harus merupakan nyanyian. Sedikit demi sedikit, siswa perlu diajak mengenal bentuk-bentuk puisi lain. Seperti puisi yang berikut ini:

Hari Ulang Tahun
Karya: Anandita F.P.

Bunda memasang pita
Ayah membawa hadiah
Kakek-nenek turut serta
Riang sama-sama dalam pesta

“Tiup lilinnya.”
“Potong kuenya.”

Ini hari ulang tahun
Hari penuh arti
Berbagi ceria bersama-sama
Jangan lupa berdoa : Tuhan Maha Segala

Ini hari ulang tahun
Hari ketika kita mengingat usia
Mengucap kebesaran Tuhan!

Taman Bacaan
Karya: Fajar M.N.
Inilah piknik yang paling unik
Di sini kutemukan banyak jalan
Jejak-jejak pahlawan
Tokoh-tokoh dunia bertemu tanpa jemu
Tidak peduli lawan atau kawan
Bahkan di taman bacaan, semuanya berjabat tangan

Kalau kita resapi contoh puisi tersebut, akan tampak perbedaan bentuk dan tema puisi. Puisi “Memandang Laut” bertema keindahan alam, sedangkan puisi “Hari Ulang Tahun” dan “Taman Bacaan” bertemu kehidupan sehari-hari.

Selasa, 04 Januari 2011

Kriteria Bahan Apresiasi Puisi


Bahan apresiasi puisi dapat kita peroleh dengan mudah, sebab bahan-bahan itu banyak, baik dari buku maupun surat kabar atau majalah yang menyediakan ruang puisi untuk siswa. Akan tetapi, untuk mendapatkan bahan yang memenuhi kriteria sebagai bahan apresiasi yang baik, kita perlu memilih atau menyeleksinya terlebih dahulu. Kriteria yang digunakan untuk bahan pengajaran puisi tidak berbeda dengan pilihan bahan apresiasi cerita/prosa.
Berikut ini beberapa kriteria untuk pemilihan bahan apresiasi puisi yang dapat kita pelajari :


1.       Kriteria keterbacaan di dalam puisi, yaitu mencakup sukar atau tidaknya bahasa yang digunakan
2.       Kriteria kesesuaian yang terdiri atas kesesuaian dengan kelompok usia anak dan lingkungan sekitar tempat mereka berada.

A.        Kejelasan Bahasa dan Pesan

Bahasa puisi harus ada pada taraf kemampuan bahwa siswa atau taraf sedikit lebih tinggi. Berdasarkan hal ini dapat diartikan, bahwa puisi untuk siswa seyogianya mempergunakan kata-kata yang telah mereka kenal, siswa terbantu untuk dapat segera merasakan dan menikmati puisi tersebut. Kata-kata baru dimaksudkan untuk menambah perbendaharaan kosakata siswa. Dengan demikian, pengajaran puisi dilakukan dengan pola membantu pengajaran kosakata, tetapi perlu diingat, kata-kata baru itu janganlah terlalu banyak karena akan mengganggu siswa dalam menikmati puisi tersebut.
Di samping pertimbangan tentang banyak atau tidaknya kata sulit, perlu diperhitungkan juga mengenai susunan kalimat puisi. Puisi-puisi yang susunan kalimatnya terlalu panjang hendaknya tidak dipilih sebagai bahan pengajaran, sebab akan menjemukan siswa.
Sekarang kita pahami puisi berikut.

Mawar 
Karya : Noer Syamsiah

Kala kuncupmu mekar
Semerbak harumu menusuk hati
Mawarmu memancarkan sinar
Berkilauan di pangkuan malam
Menanti cahaya mentari

Mawar kau amat rupawan
Manis
Lembut
Elok

Mawar kau perindah tamanku
Akankah kau bersemi selamanya
Kuingin selalu
Melihatm indahmu

Puisi untuk Kucingku 
Karya : Wartini

Mata bundar
Seperti mata harimau
Aku takut
Gemetar
Bergidik
Bila kamu memandang
Tapi,
Bulumu halus bagai sutra
Kehitam-hitaman
Kecokelat-cokelatan
Hm, bikin hatiku terkesan
Betapa hatiku bahagia
Di saat menggendongmu
Mengelus-elus halus bulumu
Kemudian kau berlari
Aha, hatiku tertawa

Kedua puisi tersebut dapat dipilih untuk keperluan bahan apresiasi, sebab bahasa dan susunan kalimatnya cukup sederhana. Pesan yang dikandungnya pun cukup mudah dipahami siswa. Jika kriteria keterbacaan ini telah terpenuhi, diharapkan siswa dapat menyenangi puisi itu. Siswa pun akan mudah menangkap pesan yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan tertangkapnya pesan pusi itu, berarti ada harapan/nilai positif bagi siswa, yakni puisi juga ternyata memberi bimbingan lain, misalnya menyayangi hewan, senang bertanam, menghormati orang tua, dan tidak manja.
FileServe